Sunday, October 12, 2014

Review: Menulis Kelas #5 @kopdarfiksi edisi Horor bersama Ruwi Meita









Pengalaman menulis novel horor yang merupakan pelatihan menulis yang pertama kali Saya ikuti.  Pelatihan ini berbeda dengan pelatihan menulis yang sering di adakan, karena mengambil tema menulis horor. Ketika pertama kali liat TL @bukune tentang menulis horor kelas #5, tanpa berfikir panjang langsung mendaftar. Padahal Saya belum baca lokasi dimana dan ternyata ahhh Jogja. Jarak Temanggung-Jogja bukan menjadi halangan dan Sabtu itu Saya sudah merayakan Hari Raya Idul Adha, maklum tidak ikut  Pemerintah jadi perayaan lebih awal, hal ini pun tidak menjadi kendala.
Kelas #5 menulis edisi horor ini akan di isi oleh Penulis Ruwi Meita dan Host Bara. Ruwi Meita merupakan penulis besar yang sudah menghasilkan banyak karya, buku yang terbaru berjudul kamera penghisap jiwa. Kesempatan ini tentunya tidak Saya sia-siakan untuk menimba ilmu dari penulis yang sudah sangat berpengalaman dan memiliki nama.  Tentunya dengan host yang asyik dan cerdas membuat kelas #5 ini menjadi hidup. Sungguh pengalaman yang menyenangkan, terima kasih untuk @kopdarfiksi, Ruwi Meita dan @benzbara, semoga dikelas berikutnya masih bisa ikut.
Dari yang disampaikan oleh Ruwi Meita akhirnya Saya tahu bagaimana teknik menulis horor tanpa hantu. Selama ini horor selalu identik dengan hantu, ternyata tanpa hantu pun kita bisa membuat buku horor dan pembaca ketakutan, minimal memberi efek kejut terhadap pembaca.
Satu lagi ilmu sakti yang Saya dapat dari diskusi dengan Ruwi Meita adalah bagaimana memunculkan rasa takut yang dapat dituangkan dalam sebuah tulisan. Teknik termudah menulis horor adalah memunculkan rasa takut yang kita miliki. Tapi tidak semua orang dapat memunculkan rasa takut apabila sudah terbiasa dengan penampakan dan fenomena mistis lainnya. Berikut adalah beberapa yang perlu diketahui sebelum menulis novel horor:
1.      Novel horor identik dengan Ketakutan dan Tragedi
Dalam penulisan novel horor bisa menulis tentang kehidupan yang menakutkan dan berakhir tragis atau menulis tentang banyak kematian yang dialami oleh tokoh dalam cerita. Bisa juga mengambil dari urban legend yang beredar di masyarakat. Contoh: Di RS.Dr Soet*m* memunculkan kisah hantu suster gepeng atau suster m*ri* yang mengalami kematian karena tergencet lift. (sengaja saya samarkan namanya karena ketika menulis ini leher seperti ada yang mencekik dan mati listrik)
2.      Selama memiliki rasa takut, masih bisa menulis horor.
Dari ketakutan yang kita rasakan sendiri menjadi modal awal untuk menulis novel horor. Tingkat ketakutan yang dimiliki seseorang berbeda-beda, seorang penulis harus mampu memberi efek takut kepada pembaca.
3.      Memunculkan lima elemen horor dalam novel.
a.       Ketakutan
b.      Suspense
c.       Surprise
d.      Misteri dan,
e.       Teror

Tips menulis novel horor ala Ruwi Meita:
1.      Mencari ide yang luar biasa atau unik.
What if bisa menjadi pondasi dalam penulis novel horor, hal ini akan membuat pembaca merasa terpancing atau penasaran dengan apa yang akan terjadi. Contoh: apa yang terjadi jika bayanganmu hidup dan menguasaimu. atau game yang membawa pelakunya berujung bunuh diri.
2.      Buatlah outline yang matang.
-          Gambaran plot tersusun dengan jelas dan mudah dimengerti ketika memulai penulisan, secara singkat dapat menjelaskan alur cerita.
-          Bisa menggunakan imajinasi atau membayangkan memutar film dikepala  tentang sebuah fenomena.
-          Mempertahankan tulisan yang logis meskipun imajinasi tidak dibatasi. Tulisan yang logis dapat diterima oleh pembaca tanpa melebih-lebihkan suatu kejadian dalam cerita.
3.      Temukan monstermu sendiri.
-          Menciptakan monster baru atau tokoh yang masih fresh akan menarik minat dari pembaca untuk menelusuri jalannya cerita.
-          Apabila mampu menggambar dapat mempermudah pembaca mengenali monster atau tokoh yang ada dalam cerita.
-          Monster yang baru bisa berwujud ketakutan dasar manusia tanpa memunculkan hantu.
-          Contoh: seorang tokoh mengadopsi anak dari panti asuhan yang berusia lima tahun, ternyata anak tersebut orang dewasa yang mengalami gangguan pertumbuhan dan merupkan seorang psikopat.
4.      Tokoh utama selalu dalam kondisi yang sulit.
Tempatkan tokoh utama dalam jalannya cerita selalu dalam posisi yang sulit, salah langkah dan tidak mempunyai pilihan yang bagus, apabila tokoh utama dihadapkan pada lubang ynag mencekam maka tidak punya pilihan lain selain masuk ke lubang tersebut.
5.      Pilih setting yang mendukung.
Latar belakang tempat-tempat yang angker dan dikenal masyarakat tempat yang menyeramkan akan mendukung jalannya cerita menjadi lebih menakutkan. Pembaca akan membayangkan tempat  tersebut ketika membaca, dengan informasi yang sudah diketahui tentang keangkeran suatu lokasi. Contoh: Lawang Sewu Semarang.
6.      Deskripsikan alur cerita dan kejadian dengan baik.
Penulis harus mampu mendeskripsikan kejadian dengan baik dan mudah dimengerti oleh pembaca, karena deskripsi yang baik akan menentukan ketegangan. Penulis bisa menggunakan gambarang dari lima panca indera yang dimiliki manusia, meliputi: mata untuk penglihatan, tangan untuk peraba, telinga pendengaran, hidung untuk penciuman dan lidah untuk rasa atau pengecap. Contoh: tokoh mencium bau anyir darah ketika memasuki lorong di rumah sakit.
7.      Show dont tell
-          Tell: memunculkan perasaan takut yang amat mendalam atau memunculkan rasa kesedihan sehingga pembaca ikut merasakan yang di alami oleh tokoh dalam cerita.
-          Show: menggambarkan apa yang dirasakan oleh tokoh dalam cerita secara berkelanjutan, perasaan yang di alami tokoh saling berkaitan. Contoh: dia menelan ludah yang terasa pahit dikerongkongan, saat tubuhnya merakan getaran yang semakin menjadi dan jantung semakin berdetak kencang.
NB: 
Tips memunculkan rasa takut bagi penulis:
-          Mengingat pengalaman menakutkan.
-          Melihat film-film horor.
-          Mengunjungi tempat-tempat yang menyeramkan.
-          Melihat suatu peristiwa yang tragis.
-          Mencari tahu cerita atau fenomena menakutkan yang sedang heboh di masyarakat.
-          Mewawancarai orang lain untuk mengetahui rasa takut yang pernah di alami.
Categories:

0 comments:

Post a Comment