Monday, April 13, 2015

Empat Periode Usia Manusia


Kala pemuda berusia 60 tahun, separuh usianya telah habis oleh tidur di gelap malam. Seperempat usianya melintas tanpa diketahui, apakah berjalan ke kanan ataukah ke kiri. Seperempat usianya yang lain ditelan sakit, uban dan repot mengurus keluarga.” –Ali bin Abi Thalib

Usia manusia dilalui tanpa disadari telah melewati banyak waktu. Kalau kemarin dirasa masih bermain-main dengan teman sekolah, sekarang sudah bekerja, mungkin lusa sudah bermain dengan cucu. Meskipun bertahun-tahun, tapi kalau diingat-ingat, rasanya peristiwa yang sudah dilalui seperti belum lama terjadi.
Waktu kematian seorang manusia tidak ada yang mengetahui, semakin bertambahnya usia, sebanding dengan berkurang waktu yang dimiliki di dunia. Artinya, sudah banyak waktu yang dilalui daripada yang belum dijalani. Walaupun tiap orang memiliki ‘jatah’ usia yang berbeda.
Dalam khazanah Islam, usia manusia dibagi menjadi empat periode. Pertama, periode kanak-kanak atau thufuliyah. Kedua, periode muda atau syabab. Ketiga, periode dewasa atau kuhulah, dan keempat, periode tua atau syaikukhah.
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, periode kanak-kanak adalah saat anak mulai lahir sampai baligh. Periode kedua, yakni usia muda dimulai dari baligh sampai orang tersebut berusia 40 tahun. Sedangkan periode dewasa dimulai ketika umur 40 tahun sampai 60 tahun. Terakhir, periode tua yakni usia 60 tahun sampai seterusnya.
Masa kanak-kanak banyak dilalui dengan masa bermain, atau bisa dikatakan pada masa ini menjadi awal mula seorang anak perlu diberi pondasi (pendidikan) yang baik. Masa kanak-kanak merupakan masa meniru, perlu diberikan contoh yang tepat pada periode pertama ini.
Pada periode kedua, masa muda adalah masa mencari jati diri. Dimasa-masa ini, akal anak muda belum terbentuk secara matang. Anak muda masih menggunakan egonya untuk menjalankan apa yang menjadi kehendaknya. Peralihan menjadi dewasa terjadi pada periode ini.
Kematangan atau kedewasaan seorang terjadi pada periode ketiga. Periode ini dikatakan bahwa seorang telah mencapai kedewasaan secara fisik, mental, intelektual, emosional dan spiritual. Berbeda dengan periode sebelumnya, dalam Islam, periode ini memiliki perhatian khusus.
Allah SWT berfirman:
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang tua ibu bapak-nya, ibunya mengandungnya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal shaleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sehingga aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (Al Ahqaaf: 15).
Periode terakhir atau keempat ialah ketika manusia sudah mendekati akhir masa hidup di dunia. Pada periode ini, seorang akan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan-nya. Waktu yang sudah semakin habis, menjadi pertimbangan terpenting untuk segera merubah ke arah yang lebih baik.
Rasulullah SAW bersabda:

Seorang hamba Muslim bila usianya mencapai empat puluh tahun, Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai enam puluh tahun, Allah akan memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Bila usianya mencapai tujuhpuluh tahun, para penduduk langit akan mencintainya. Jika usianya mencapai delapan puluh tahun, Allah menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai semblan puluh tahun, Allah akan menghapus dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang belakangan, Allah juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya, serta Allah akan mencatatnya sebagai ‘tawanan Allah’ di bumi’”. (HR. Ahmad).
Categories: ,

0 comments:

Post a Comment