Wednesday, February 18, 2015

Keajaiban Sedekah 1: Pak Guru Yan

True Story

Yanuar Ibrahim Wicaksana Santosa atau sering dipanggil Pak Guru Yan pengajar di Madrasah pinggiran kota. Kehidupan yang sederhana memiliki kesamaan dengan Madrasah tempat dia mengajar. Kendaraan roda dua keluaran tahun 70-an setia mengantar guru muda tersebut membagikan ilmunya.
Sebagai pemuda yang alim, tergerak dari dalam hati untuk mengajar. Hal ini didasari melihat pendidikan sekarang yang syarat akan uang. Biaya masuk yang tinggi membuat beberapa anak didik harus terpinggirkan menjadi tenaga kerja di bawah umur.
“Aku mengajar semata-mata bukan untuk mencari uang, ridho Allah jauh lebih penting.” Kata guru muda berumur 28 tahun tersebut.
Memang mengajar di Madrasah belum memiliki sistem gaji yang jelas. Terkadang, potongan gaji mengajar dilakukan. Hal ini sering terjadi karena dana yang ada harus bisa mencukupi honor semua guru.
“Sabar Cak, semua ada waktunya.” Nasehat seorang sahabat kepada Pak Guru Yan.
Musim hujan sudah berganti. Andai dulu musim hujan di bulan Januari, saat ini sudah tidak berlaku. “Mungkin karena kerusakan alam”, begitulah yang ada dipikiran Pak Guru Yan.
Pertengahan bulan Februari, di pagi hari yang mendung, Pak Guru Yan membuka lembar demi lembar buku motivasi yang ada di hadapannya. Hari ini adalah hari libur bagi Pak Guru Yan. Beberapa kelas diliburkan untuk mempersiapkan Ujian akhir. Jadi waktu luang digunakan untuk membaca dan memperbanyak wawasan.
Berbeda dengan biasanya, hari ini kebiasan Pak Guru Yan membaca dirasa tidak fokus. Apa yang dia baca tidak dapat masuk di otak untuk dipahami dan disimpan. Bayang-bayang Rosa selalu muncul dipikirannya.
Rosa adalah perempuan yang akan dinikahi Pak Guru Yan dua bulan mendatang. Hari-hari menjelang pernikahan membuat kepala dipenuhi banyak pikiran, dimulai dari persiapan pernikahan hingga pekerjaan.
Hand phone nokia low end tiba-tiba berdering, satu pesan muncul dilayar. “Tumben Rosa sms jam segini.” Kata Pak Guru Yan.
Disaat jam kerja, Rosa memang jarang mengirim pesan andai tidak ada hal yang penting. Keraguan muncul dibenak Pak Guru Yan untuk membuka pesan. Jantung tiba-tiba berdebar kencang, keringat dingin muncul dipunggung dan kepala. Ibu jari kanan terasa berat untuk memencet keypad.
Selama beberapa detik suasana masih sama, dengan mengucap “bismillah” Pak Guru Yan berharap tidak ada kabar mengecewakan dari Rosa.
Nama Muhammad Romadhon muncul dilayar hand phone,  beliau Kepala Madrasah tempat Pak Guru Yan mengajar. “Tumben, mungkin aku akan dilibatkan dalam persiapan panitia ujian.” Kata Pak Guru Yan dalam hati mencoba menebak isi pesan.
“Yes, ada tambahan dana buat nikah.” Girang Pak Guru Yanuar.
Menikah memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Meskipun acara pernikahan yang akan dilakukan sederhana, tetapi kebutuhan sesudah menikah menjadi bertambah banyak. Tambahan penghasilan dan gaji adalah dua hal yang diharapkan Pak Guru Yan saat ini.
Deg, seolah-olah jantung dan paru-paru berhenti setelah membaca isi pesan dari Pak Romadhon. “Dik, mohon maaf, mulai minggu ini Pak Yan tidak perlu datang ke Madrasah. Untuk sementara kami tidak memerlukan guru tambahan, dikarenakan dana yang ada tidak mencukupi untuk jumlah guru yang tersedia. Dengan berat hati, kami akan memaksimalkan guru senior. Harap maklum. Salam-Muhammad Romadhon

* * *
Ketika Rosa mengetuk pintu, berulang kali tidak ada jawaban, rasa khawatir semakin menjadi. Sejak tiga hari yang lalu, saat Mas Yan mengabarkan dirinya tidak mengajar lagi, sampai saat ini tidak bisa dihubungi. Dengan ijin yang diberikan oleh atasan, Rosa mendatangi rumah Mas Yan.
Setelah sekian lama pintu diketuk tidak ada jawaban, Rosa mengintari rumah untuk menuju pintu belakang rumah. Hubungan yang lama sudah terjalin, menjadikan Rosa mengetahui kebiasan keluarga Mas Yanuar. Pintu belakang yang menghadap sawah, tidak pernah dikunci kala siang hari.
Melalui pintu belakang, Rosa memberanikan diri untuk masuk. Sesaat Rosa masuk rumah melewati pintu belakang, ruangan yang pertama ditemuinya adalah dapur. Ternyata laki-laki yang akan menjadi suaminya sedang melamun.
“Sudah mas, masih ada jalan lain.” Kata Rosa.
“Gimana tidak sedih dik, bentar lagi kita married, tapi Madrasah malah memecat mas.” Kata Mas Yan disertai air mata keluar membasahi pipinya.
“Aku nganggur dik!!! Mau makan apa kita besok?? Sekarang aja, mas tak cukup uang buat memenuhi kebutuhan mas.” Kata Mas Yan.
“Cincin kawin buat ijab dijual dulu saja tak apa mas” tegas kata Rosa. “Bukankah Rasulullah SAW bersabda: sebaik-baiknya wanita yang mudah maharnya, iya kan mas?”
Setelah Mas Yan dirasa sudah tenang, Rosa pamit untuk kembali ke kantor. “Shalat trus berangkat ke toko emas saja, Insya Allah ada jalan.” Kata Rosa sebelum menutup pintu.
Dua jam kemudian…
“Dik, cincin sudah laku. Kalau sudah dapat kerja, besok mas ganti yang lebih bagus.” kata Mas Yan. Sesudah dari Toko Emas, Mas Yan menyempatkan mampir ke kantor Rosa.
“Tak apa, mas. Kalau Mas Yan mau, disedekahkan saja uang hasil jual cincinnya.” Kata Rosa.
“Allah Maha Kaya, Allah lebih tahu yang terbaik buat Mas Yan.” Lanjut kata Rosa meyakinkan.
“Yakin dik?” tanya Mas Yan.
“Yakin mas, adik ikhlas.” Jawab Rosa.

* * *
Sebagai guru madrasah, Pak Guru Yan tentu memiliki banyak kenalan pengurus pesantren. Mengendarai motor tuanya, Pak Guru Yan memacu dengan cepat menuju pesantren hafalan Al-Qur’an buat anak yatim. Menurut dia, pesantren tersebut sedang membutuhkan banyak biaya.
“Assalamu’alaikum, Pak Ustad.” Kata Pak Guru Yan, di depan pintu rumah.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Pak Ustad dengan gembira mengetahui siapa yang datang.
Setelah panjang lebar berbagi kabar dan wawasan, Pak Guru Yan menceritakan niat kedatangannya ke pesantren tersebut.
“Alhamdulillah, semoga Allah melipatgandakan kebaikan Pak Yanuar.” Kata Pak Ustad, setelah Pak Guru Yan menyerahkan uang hasil penjualan cincin kawin.
“Aamiin” jawab Pak Guru Yan.
Sekitar lima menit, Pak Guru Yan bercerita tentang peristiwa tiga hari yang lalu, yang membuat dirinya sekarang memiliki status baru ‘pengangguran’. Pak Ustad pun merasa iba mengetahui keadaan yang terjadi, hari pernikahan yang semakin dekat tentu menjadi beban pikiran.
Tiba-tiba hand phone-nya berdering, sebuah pesan masuk dibaca oleh Pak Guru Yan.
“Alhamdulillah…..” Kata Pak Guru Yan.
Pak Ustad masih merasa bingung dengan perubahan cepat pada raut muka Pak Guru Yan.
“Dimohon kesediaannya untuk mengajar di sekolah….” Isi pesan yang ditunjukan pak Guru Yan kepada Pak Ustad. Akhirnya, Pak Ustad memahami, bahwa Pak Guru Yan dtawari mengajar di Sekolah Islam Swasta terbesar di kota ini. Sungguh Allah Maha Besar.
“Alhamdulillah, mas. Alhamdulillah.” Kata Rosa di ujung telepon, saat Pak Guru Yan menceritakan kabar gembira tersebut.
“Iya, Alhamdulillah dik. Kebesaran Allah tidak ada yang mampu menandingi. Semua ini berkat saran dik Rosa. Ternyata mas gak salah milih calon istri… Alhamdulillah.” Kata Pak Guru Yan.







Categories: ,

0 comments:

Post a Comment