Thursday, March 19, 2015

Lupa Diri



Dewasa ini kita sering meliat berita di televisi menayangkan para elit politik berdebat. Bahkan ajang debat sering disiarkan secara live. Pihak satu dengan pihak yang lain saling beradu argumen, (mungkin) masing-masing merasa paling benar. Tak jarang, kalimat yang keluar merupakan kata-kata yang tak pantas dari seorang pemimpin. Terlebih tayangan tersebut ditonton oleh berjuta pasang mata.
Setiap pihak akan membuat pembenaran terkait apa yang telah dipertentangkan. Di sisi lain akan menyerang dengan tuduhan yang belum tentu kebenarannya. Kebenaran yang semestinya diketahui publik menjadi absurd untuk diungkap.
Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff: 2-3).
Jabatan dan harta mampu merubah watak seseorang. Ketika awal merintis karir, seseorang masih memegang aturan, norma, sopan santun dan hukum agama sebagai tatacara berperilaku yang baik. Penilaian yang baik ini akan membuat seseorang memiliki prestasi dan cepat menuju puncak karir. Akan tetapi ketika seseorang sudah mencapai puncak karir (jabatan) akan membuat orang lupa diri. Merasa berkuasa dan paling benar segala tindakan maupun ucapannya.
Jabatan adalah bagian dari ujian, karena jabatan memiliki kekuasaan yang satu paket dengan harta. Tak sedikit  pejabat yang terkena kasus korupsi. Semua berawal dari jabatan dan kekuasaan. Orang yang memiliki kekuasaan akan tergoda meraup harta yang semestinya bukan menjadi haknya. Jabatan membuat orang menjadi lupa diri, lupa dengan hukum agama maupun negara.
Sindrom pemimpin, seperti yang sudah disebutkan diatas adalah merasa paling benar. Berkat kekuasaan yang dimiliki membuat apa yang dilakukan adalah kewajaran. Jabatan bukan lagi menjadi suatu amanah, namun menjadi alat atau sarana untuk menguasai sesuatu.
Jika seseorang yang memiliki jabatan (kekuasaan) tidak mampu menahan godaan syaitan maka akan membuat dirinya menjadi lupa diri.
Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hekdaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada dirinya sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hasyr: 18-19).
Berdasarkan ayat diatas dapat diketahui dampak bagi orang yang lupa diri.
(a)  Allah akan melupakannya
Ketika Allah SWT sudah melupakan seseorang, tamatlah riwayat orang tersebut. Jika Allah SWT melupakan seseorang, maka Dia akan mengabaikan, menelantarkan dan membiarkannya. Kepada siapa lagi kita akan memohon atau meminta perlindungan selain kepada-Nya?
(b)  Menjadi orang fasik
Orang yang lupa diri akan berbuat semaunya. Tindakan melampaui batas mendekatkan orang tersebut kepada kehancuran. Tindakan yang semena-mena akan membuat orang lain tidak suka dan cenderung memusuhi. Apa yang terjadi ketika hidup di dunia tetapi memiliki banyak musuh? Orang fasik akan rugi di dunia juga akhirat.

Selagi masih ada waktu, jadikanlah amanah, jabatan, popularitas dan kekuasaan sebagai alat untuk meraih kehidupan sejati, yakni kehidupan yang di ridhai Allah SWT, baik di dunia maupun akhirat. Setiap orang perlu kembali bercermin, melihat apa yang telah dia perbuat sampai taraf kehidupan sekarang. Apakah kehidupan saat ini telah membawa ke dalam kebaikan atau justru telah menyesatkan dalam kemaksiatan.
Bukan hanya publik figur saja yang bisa menjadi lupa diri, manusia “biasa” seperti kita pun juga bisa menjadi lupa diri. Pada dasarnya, syaitan akan menggoda semua umat manusia tanpa tebang pilih. Sepantasnya kita selalu mengingat Allah ,mendekatkan diri kepada Allah, serta selalu meminta ampunan atas segala tindakan yang dilakukan. Boleh jadi apa yang kita lakukan sudah merasa benar, namun bagi orang lain bisa beranggapan bahwa apa yang kita lakukan sudah melampui batas atau lupa diri.


Categories: ,

0 comments:

Post a Comment