Wednesday, June 24, 2015

Faktor Pendorong Kepribadian Manusia


Manusia terlahir dalam keadaan suci, berbagai kepribadian terbentuk karena beberapa faktor. Baik atau buruknya manusia terbentuk saat menjalani kehidupan. Ketika akal mutlak berperan dibandingkan hati, akan timbul beberapa kesalahan yang dilakukan manusia.
Rasulullah Saw bersabda:
Tiada bayi pun dilahirkan, kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi, sebagaimana hewan melahirkan hewan seluruhnya. Apakah kamu melihat ada cacat dalam fitrah itu? Kemudian Abu Hurairah membaca surat Ar Ruum ayat 30.” (HR. Bukhari).
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum: 30).
Darwin mengemukakan dalam teorinya bahwa manusia berasal dari kera. Boleh jadi secara fisik mungkin memiliki beberapa kemiripan, tetapi kita memiliki Nabi Adam As. yang merupakan nenek moyang umat manusia. 
Lantas mengapa manusia memiliki sifat kebinatangan? Ya, manusia bisa jadi memiliki sifat lebih kejam dibandingkan binatang. Hal ini terbentuk karena beberapa perubahan dari keadaan fitrah ketika lahir, menjadi berubah karena beberapa faktor. Berikut faktor pendorong kepribadian manusia:
a.    Insting
Insting merupakan naluri yang muncul secara alamiah. Beberapa tindakan yang didasarkan pada insting merupakan tindakan yang dilakukan tanpa disadari. Sebagai contoh, ketika bayi merasa ketakutan atau lapar akan menangis atau orang dewasa yang merasa lapar akan tergerak untuk mencari makanan.
Apabila insting tidak dibekali dengan ilmu pengetahuan dan agama, bisa menjadikan kerusakan dimuka bumi. Aturan agama maupun negara bisa mengontrol perilaku manusia berdasarkan insting.
Allah Swt berfirman:
Terangkalah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadikan pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS. Al Furqaan: 43-44).
b.    Kebiasaan
Faktor kebiasaan bisa merubah perilaku manusia. Kebiasaan yang dilakukan akan membuat seseorang merasa nyaman atau membutuhkan. Sebagai contoh, orang yang terbiasa bangun pagi akan merasa aneh dan menyesal ketika bangunnya kesiangan atau meninggalkan waktu shalat subuh.
Sedangkan orang yang terbiasa bangun siang, akan merasa biasa saja tanpa beban ketika meninggalkan shalat subuh hampir tiap hari. Justru ketika bangun lebih pagi akan merasa masih mengantuk.
Bisa juga mengambil contoh lain, orang yang tidak terbiasa berolahraga akan merasa lemas dan pegal-pegal ketika melakukan olahraga. Sedangkan orang yang terbiasa berolahraga akan merasa tidak nyaman ketika tidak berolahraga.
c.    Keturunan dan lingkungan
“buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” begitulah pepatah mengatakan tentang kepribadian seseorang tidak akan jauh beda dengan orang tuanya. Apabila orang tua berperilaku ramah dan memiliki sifat solidaritas yang tinggi terhadap sesama, maka anak akan cenderung meniru perilaku dari orang tua tersebut.
Faktor lingkungan juga memiliki pengaruh besar terhadap terbentuknya kepribadian. Dimulai dari lingkungan keluarga sampai lingkungan pergaulan akan menentukan kepribadian. Hal benar yang dilakukan dalam lingkungan yang salah, akan dianggap suatu ketidakwajaran. Sedangkan kesalahan bila dilakukan dalam lingkungan yang tidak baik akan dianggap kewajaran.
Sebagai contoh, apabila bergaul dengan orang-orang nakal, berkata kotor dianggap hal yang lumrah. Lain cerita bila bergaul dengan para alim ulama, berkata kotor bisa menimbulkan kehinaan bagi pelakunya.
d.    Kehendak
Seseorang akan tergerak atau bertindak apabila memiliki kehendak. Beberapa yang terkait dengan kehendak seperti keinginan, kebutuhan dan perasaan. Keinginan yang dimiliki seseorang, membangkitkan untuk berusaha mendapatkan dan memperoleh apa yang diinginkan.
Kebutuhan akan menggerakan seseorang lebih besar dibandingkan keinginan. Pada dasarnya kebutuhan merupakan suatu hal yang harus terpenuhi. Apabila kebutuhan yang merupakan hal pokok tidak terpenuhi, maka bisa dikatakan manusia tersebut belum mampu menjalankan kehendaknya.

Sebagai contoh, seorang petani dengan penghasilan pas-pasan berkehendak memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya sampai perguruan tinggi. Ketika sudah berkehendak, maka petani tersebut akan bekerja keras untuk menghasilkan uang demi biaya kuliah anak-anaknya. Petani tersebut akan merasa berhasil ketika anak-anaknya telah menjadi sarjana. 
Categories: ,

1 comment: