Sunday, November 23, 2014

Keberuntungan




Stabilitas yang tak bisa kita temukan di dunia ini haruslah kita ciptakan dalam diri kita sendiri – Nathaniel Branden


Sering kali seseorang mendapatkan keberuntungan, pulung, bejo atau hoki. Namun ada kalanya seorang mengalami kesialan bertubi-tubi. Hampir semua orang tidak akan ada yang mau mendapatkan kesialan, kebetuntunganlah yang dinantikan. Sifat dasar manusia adalah tidak mau bersusah payah. Bahkan hal ini menjadi peluang, munculnya para calo dibeberapa tempat pengurusan surat maupun perijinan. Andai kata mayoritas orang tidak mau bersusah payah, siapa yang untung?



Hanya orang yang sadar bahwa kesusahan adalah peluang.


Dalam kehidupan bermasyarakat sering kita jumpai fenomena “keberuntungan”, mendapatkan hadiah, menemukan harta karun, lulus tanpa tes atau bahkan menang lotere.  Ambil contoh Sri adalah salah satu pedagang besar di kota-x yang memiliki karyawan banyak. Selain berdagang Sri juga mengembangkan bisnisnya dibidang peternakan dan perikanan. Semua kegiatan bisnis yang dijalankan berkembang dengan pesat. Keuntungan berupa materi sudah berpihak terhadapnya. Belum lagi mendapatkan hadiah dari undian Bank ataupun hadiah dari showroom mobil dimana dulu dia pernah membeli. Orang lain maka berkata “keberuntungan berpihak terhadap orang kaya”.



Bandingkan dengan contoh lain, Agus adalah pemuda yang terbilang maju di kampungnya. Pendidikan yang didapatkan diperguruan tinggi menjadikan dia salah satu tokoh pemuda yang dihormati. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya usia, lapangan pekerjaan mulai sempit, dan persaingan mendapatkan salah satu profesi kian hari menipis. Segala usaha yang dikembangkan sembari menunggu panggilan kerja tidak berjalan dengan lancar. Perusahaan yang bersedia menerima dirinya bekerja mewajibkan menyetor uang sekian juta, sedangkan harta benda milik orang tua sudah habis untuk biaya kuliah. Tentu peluang bekerja dengan profesi yang diinginkan sirna seiring pelamar kerja yang lain bersedia membayar uang yang di minta. 




Hampir tiap tahun menjelang ujian nasional banyak siswa maupun siswi berubah menjadi orang alim. Rajin mengujungi tempat ibadah, merenungi segala kesalahan dan berdoa dengan penuh keyakinan agar mendapatkan keberuntungan, yakni lulus ujian nasional. Sebagian siswa akan berharap menjadi orang bejo.




Di televisi sering menampilkan iklan dengan slogan “orang pintar kalah dengan orang bejo”. Apakah demikian? Mungkin sebagian kejadian ada yang memposisikan orang bejo sebagai pemenang dibandingkan orang pintar. Ada sebuah kejadian dimana dua murid di SMA Swasta di kota-x bernama Taufik dan Fifi yang merupakan murid teladan. Prestasi dari kelas satu sampai kelas tiga ditunjukan dengan rangking kelas tidak lebih dari angka tiga. Peringkat satulah yang sering didapatkan, diikuti nilai mata pelajaran rata-rata delapan. Namun ketika pengumuman ujian nasional diberikan sontak semua teman, guru dan orang tua terkejut. Kedua siswa yang semenjak awal menjadi teladan dengan prestasi yang gemilang dinyatakan tidak lulus. Tidak beruntungkah kedua siswa ini?




Seiring dengan berjalannya waktu apakah keberuntungan melekat pada diri seseorang? Tentu saja semua orang akan percaya bahwa peruntungan akan datang dan pergi. Keberuntungan juga bisa dikatakan sebagai sebuah peluang. Saat seseorang mendapatkan keberuntungan, maka dirinya akan mendapatkan sesuatu yang lebih atau yang tidak didapatkan orang lain. 



Sebagian orang akan berkata “peluang tidak akan datang dua kali”. 

Akankah kita akan bergantung terhadap bejo untuk memperoleh peluang?
Masihkah ada waktu untuk menunggu keberuntungan? 
Jangan sampai dengan kita menunggu ternyata peluang sudah menjadi milik orang lain.




Firman Alloh SWT:




…Sesungguhnya Alloh tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaannya. Dan apabila Alloh menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (QS. Ar Raad: 11).

Dari ayat di atas kita mengetahui bahwa keadaan seseorang tidak akan berubah selama manusia itu tidak memiliki niat dan tindakan untuk berubah. Berdoa sepanjang hari, mendatangi tempat suci dan melakukan laku “prihatin”, demi mengharapkan keberuntungan merupakan tindakan yang kurang lengkap tanpa kerja keras.




Andai kata semua orang akan mengharap menjadi beruntung tanpa adanya kerja keras maupun keilmuwan, apa yang akan terjadi di Negara ini? Ketika orang pintar tidak beruntung mendapatkan posisi dan jabatan, sedangkan jabatan diisi oleh orang yang hanya bejo tanpa ada kepintaran, kemampuan dan wawasan. Maka segala keputusan yang di ambil berdampak kepada ketidakpuasan dan kesesuaian.




Beberapa orang menggunakan dan mempercayai benda-benda yang mendatangkan keberuntungan. Orang jawa akan percaya dengan batu akik, keris maupun benda yang dipercaya memiliki kekuatan. Di televisi sering kita saksikan dalam pertandingan sepakbola, ada beberapa pemain yang melakukan ritual khusus, memakai jimat bahkan menggunakan sepatu yang berbeda. Dengan harapan akan memperoleh keberuntungan dan memenangkan pertandingan.




Bagaimanakah seharusnya orang yang beruntung?
Orang yang beruntung haruslah mereka yang mendapatkan keberuntungan atas kerja keras, kemauan dan tekat sendiri untuk memberi manfaat baik bagi dirinya maupun orang lain. Keberuntungan yang di dapatkan berasal dari hasil tindakan yang dilakukan dengan cara yang tepat, tidak merugikan orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung.




Firman Alloh SWT:
…Mereka itulah orang-orang yang Aloh telah tanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Alloh ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) –Nya. Mereka itulah golongan Alloh. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Alloh itulah golongan yang beruntung”. (QS. Al-Mujaadilah: 22).




Keberuntungan yang diharapkan adalah hasil atau timbal balik dari segala yang kita upayakan dalam kebenaran dengan niat yang tulus ikhlas semata-mata karena mengharap ridha Alloh.  Tindakan yang dilakukan manusia di dunia akan memiliki konsekuensi atau dampak, baik di akhirat maupun di kehidupan dunia itu sendiri. Namun ketika keberuntungan merupakan hasil dari apa yang kita upayakan akan memberikan suatu rasa kepuasan. Tenaga, pikiran dan jerih payah yang kita keluarkan terbayar tuntas dengan keberuntungan yang didapatkan.




Apalagi keberuntungan di akhiratlah yang sangat diharapkan, karena kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang kekal. Hasil berupa “keuntungan” atas tindakan di dunia akan di balas berlipat kali. Amat beruntung apabila seorang anak manusia mendapatkan balasan surga dan kekal didalamnya. Sungguh orang-orang beriman akan ditempatkan dalam tempat yang tinggi bersama orang-orang beruntung lainnya.


Masihkah mengharapkan keberuntungan yang belum pasti kedatangannya? Bekerja keraslah dengan niat yang tulus maka keuntunganlah yang akan kamu dapatkan  dari segala upayamu di duna ini.
Categories: ,

0 comments:

Post a Comment