Saturday, November 29, 2014

Redamkan Marah dengan Wudhu


Manusia dibekali dengan hati, berfungsi untuk merasakan berbagai kondisi, senang, bahagia, sedih dan salah satunya marah. Manusia cenderung marah apabila disakiti, diganggu, tak jarang karena melihat suatu kejadian yang memancing amarah seseorang.
Menurut Dr. Leonard Berkowitz, seorang professor psikologi dari Universitas Wisconsin menyatakan, bahwa “pada umumnya lelaki cenderung lebih cepat marah dan agresif dibandingkan perempuan.” Sifat ini disebabkan karena pengaruh hormon testoteron terhadap proses pengembangan otak bayi lelaki sejak masih dalam kandungan.
Penyebab lain adalah faktor sosio-kultural. Kemarahan dianggap sebagai wujud hal negatif, seseorang yang mengekspresikan marah dianggap tidak mampu mengontrol diri. Rasa marah yang dimiliki seseorang juga memiliki perbedaan. Sering ditemui seorang yang mudah meluapkan kemarahan, bahkan energi yang dibutuhkan juga tidak sedikit.

Masih menurut Berkowitz, faktor keluarga juga berperan terhadap pemicu kemarahan yang dimiliki seseorang. Orang mudah memunculkan kemarahan biasanya berasal dari keluarga yang memiliki konflik, seperti perceraian, komunikasi yang kurang baik antar keluarga sampai pertikaian dalam satu keluarga. Trauma masa lalu juga menimbulkan tingkat emosional seseorang mudah meledak, ketika mengalami kejadian yang hampir serupa.
Firman Alloh SWT:
Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata ‘Kami beriman’; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka); ‘Matilah kamu karena kemarahanmu’. Sesungguhnya Alloh mengetahui segala isi hati. “ (QS. Ali Imran: 119).
Marah merupakan respon naluriah dari seseorang terhadap apa yang mengancam dirinya. Marah memancing sikap agresif seseorang. Rasa marah yang tidak terkendali mampu membuat seseorang bertindak agresif diluar kontrol. Banyak kasus pembunuhan terjadi karena seseorang kalap, tidak mampu mengontrol emosi.
Seorang yang marah akan meluapkan kemarahannya dengan tindakan apa saja, asal kemarahan tersebut tersalurkan. Beberapa sering dijumpai orang marah melampiaskan emosi dengan mengamuk, memukul dan bahkan menyakiti diri sendiri. Tingkat marah seseorang yang menyakiti diri sendiri sudah memprihatinkan, artinya kendali diri sudah hilang.
Rasululloh SAW menggambarkan bahwa jika seorang marah maka jantungnya dipenuhi daah dan aliran darah dalam tubuh menjadi sedemikian keras. Keadaan tersebut membuat wajah si pemarah menjadi merah dan membuat tubuh menjadi terasa panas.
Dalam kondisi marah, seseorang tidak akan mampu berfikir secara jernih. Keputusan yang diambil dalam keadaan marah sering menjadi keputusan salah. Seorang yang marah akan menuruti kemarahannya tanpa mempedulikan akal sehat yang dimiliki.
Rasululloh SAW bersabda “Ketahuilah sesungguhnya marah itu adalah bara di dalam hati anak Adam. Tidaklah kalian lihat matanya yang merah dan urat lehernya yang tegang.” (HR Tirmidzi).
Bahkan hadist yang di riwayatkan oleh Al-Syaikhani, Abu Daud, Tirmidzi dan Al-Nasai, Rasululloh SAW, mengatakan bahwa talak seorang suami tidak sah jika ia mengucapkan dalam kondisi sangat marah.
Kemampuan seseorang mengendalikan emosi dapat menyelamatkan hidupnya baik di dunia maupun di akhirat, seperti hadist yang di riwayatkan oleh Thabrani dan Ahmad. ‘Abdullah bin ‘Amru pernah bertanya kepada Rasululloh SAW: “Apa yang dapat menyelamatkan diriku dari murka Alloh?” Jawab beliau: ‘Jangan marah.”
Sesungguhnya Rasululloh SAW memberi teladan tentang mengendalikan marah. Sebagai umat muslim, wajib mengikuti kehidupan nabi sebagai contoh yang baik. Hal ini terdapat dalam hadist:
Abu Dzar r.a. berkata bahwa Rasululloh SAW. Bersabda: “Jika salah seorang kalian marah dan saat itu sedang berdiri, hendaklah ia duduk. Karena itu bisa meredamkan marahnya. Jika tidak, hendaklah ia berbaring.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).
Dari hadist tersebut, seorang dalam kondisi marah dianjurkan untuk duduk. Karena posisi duduk dapat meredam marah yang sedang terjadi. Memang kemarahan seseorang berbeda-beda, namun dengan mengikuti anjuran nabi, diharapkan kemarahan seseorang bisa mereda dengan duduk.
Dalam hadist lain Rasululloh SAW bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari setan. Dan sesungguhnya setan itu diciptakan dari api. Dan apu itu hanya dapat padam dengan air. Jadi, jika salah seorang kalian marah, berwudhulah.” (HR Abu Dawud).
Ketika seseorang dalam kondisi marah, dianjurkan untuk segera melaksanakan wudhu. Kemarahan timbul karena bujukan dari setan. Takala seseorang lupa diri karena marah maka setan sudah menguasai dirinya. Setan merupakan makhluk yang terbuat dari api, cara memadamkan api adalah menggunakan air sebagaimana telah diketahui oleh semua orang. Karena kemarahan timbul dari godaan setan yang terbuat dari api, hal yang dilakukan untuk meredam marah selain duduk adalah dengan wudhu.
Lebih baik lagi setelah berwudhu seseorang hendaknya memohon ampun, dengan berdzikir maupun dengan mengerjakan shalat terlebih dahulu. Bujukan setan memang dapat melalaikan seseorang, dengan berwudhu diharapkan rayuan setan bisa terbentengi. Bahkan umat muslim dianjurkan selalu dalam kondisi suci (sesudah berwudhu). Orang yang menjaga wudhu (keadaan suci) akan dijauhkan dari api neraka.


Categories: ,

0 comments:

Post a Comment