Friday, November 28, 2014

Sepiring Nasi Jagung…


Malam kian larut, lalu lalang kendaraan sudah jarang, tenda kaki lima di ujung jalan mulai di bongkar  pertanda jam 00:30. Tetesan air masih turun dari celah eternit teras Toko Cempaka yang berlubang di makan jaman, daun basah pun memantulkan sinar kekuningan dari lampu teplok satu-satunya penerangan yang Mbok Minah bawa.
Hari ini hujan datang lebih awal, adzan magrib berkumandang langit sudah menjatuhkan berkah. Sebagai penjual nasi jagung di malam hari, datangnya hujan berdampak sepi terhadap kehadiran pelanggan. Sepanjang malam ini langit enggan menghentikan hujan.
“Mungkin laut sudah dangkal, airnya di kirim ke Temanggung” begitulah pikiran janda tua yang sudah uzur di bumi. Tidak tahu pasti berapa usia yang di miliki sekarang. Berkah Sang Hyang Widi membuat Mbok Minah masih memiliki tenaga untuk bekerja.
Ketika pegawai kecamatan menanyakan tahun kelahiran dalam proses pembuatan e-ktp, beliau hanya mampu menjawab “kata biyung, aku lahir saat Nippon mulai masuk dusun mencari Londo”.
Di usia yang sudah senja, semangat beliau tidak pudar. Bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri dan membantu perekonomian keluarga Slamet anak bungsu beliau. Tak jarang anak sulung yang bernama Suranti, juga sering meminjam uang untuk biaya sekolah anaknya di STM. Alasan demi cucu membuat beliau tanpa ragu memberikan uang hasil dagangan bercampur dengan modal. Entah untung atau rugi, selama bisa berangkat ke emperan toko untuk berdagang, beliau merasa senang.

Seperti malam ini, walaupun sepi pembeli, beliau masih optimis bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Di tawarkan nasi jagung tambahan secara gratis kepada pemuda yang sudah berjam-jam duduk di atas tikar. Pemuda yang tidak sengaja membeli karena merasa gak enak berteduh terlalu lama. Obrolan mulai terdengar di antara keduanya, mulai keadaan ekonomi sampai masalah pribadi.
“Sesulit apapun jaman sekarang itu lebih enak. Mau beli apa saja ada, tinggal punya duwet berapa, rajin-rajinlah bekerja” wejangan diberikan beliau kepada pemuda yang mengeluh tentang harga yang terus naik. Pada masa muda beliau, barang yang tersedia di pasaran sangat sedikit. Bahkan pakaian yang di pakai Mbok Minah terbuat dari goni bekas penuh lubang disana-sini.
“Memangnya dulu gak ada toko pakaian Mbok? Di rumahku goni dijadikan wadah penyimpanan kedelai” Tanya pemuda pengeluh. “Kalo mau besok aku bawakan, siapa tahu simbok mau bernostalgia” kata pemuda pengeluh sebelum Mbok Minah sempat menjawab, diikuti tawa hambar yang akhirnya membuat beliau ikut tertawa.
Malam ini belum ada sepuluh pincuk yang laku terjual. Normalnya Mbok Minah menjual lima puluh pincuk per malam. Pincuk adalah penyebutan bungkus makanan dari daun pisang, lidi ditusukan agar daun pisang tidak terbuka. Terlihat luwes tangan berkerut itu membuat pincuk yang berakhir di tong sampah setelah isinya dimakan.
Menurut beliau, omset kian tahun semakin menurun. “Sekarang anak-anak mana ada yang mau makan nasi jagung, cucu saya saja selalu menangis minta di belikan berger dan kentaqi” kata Mbok Minah sembari menggelung rambut.
“Sebelum jualan di sini, dulu bekerja apa Mbok…?” tanya pemuda pengeluh.
Dengan retina yang sudah memutih, beliau menatap pemuda pengeluh tersebut. Merasa heran dengan pertayaan yang disampaikan, apa gerangan seorang pemuda penasaran dengan masa lalu janda tua. Perjalanan hidup yang tidak menarik maupun memotivasi, begitulah beliau beranggapan.
Lantas beliau menceritakan, sejak di persunting Nasrun, seorang anak buruh tani di Desa Tegal Anom, beliau memutuskan untuk hidup mandiri bersama suami. Rumah tangganya bahagia mesti tinggal di gubuk tepi ladang yang digarap. Pemilik tanah mengijinkan menempati sebagian kecil tanah miliknya, karena pada masa itu pangan begitu sulit, banyak pencurian hasil panen. Dengan tinggal di area ladang tersebut, pemilik tanah merasa tenang, tanah miliknya ada yang mengawasi. Tidak perlu membayar orang untuk berjaga tiap malam.
Singkong adalah makanan pokok sehari-hari, didapatkan dari belakang gubuk. Beras bahan makanan mewah ketika pengantin muda ini dianugerahi anak yang bernama Suranti. Usia kehamilan dua puluh lima minggu ternyata menjadi usia Suranti di dalam kandungan. Ketika lahir ke dunia tubuh Suranti sangat kecil. Dengan susah payah akhirnya bayi malah tersebut mampu bertahan hidup. Keterbatasan membuat perkembangan anaknya terganggu, tubuh kecil, cenderung mini.
“Sebenarnya saya gak tega, walaupun ejekan teman maupun tetangga lama-kelamaan sudah biasa ditelinga” kata Mbok Minah.
“Sehari-hari Suranti hanya membantu saya didapur” lanjut beliau bercerita.
Pernah suatu ketika badan Mbok Minah sedang kurang sehat, beliau menyuruh Suranti pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan jualan nasi jagung. Sampai ba’da dhuhur Suranti belum kembali ke rumah. Di temani suami, beliau mencari kepenjuru pasar, namun pasar sudah sepi. Segala pelosok desa didatangi dengan keberadaan Suranti yang tidak di ketahui.
Akhirnya, Nasrun mendatangi salah satu dukun yang dipercayai sebagai orang sakti di Desa Karang Anom. Menurut sang dukun, Suranti di bawa demit penunggu alas butho. Sontak kabar tersebut membuat geger penduduk Desa Karang Anom. Berbondong-bondong masyarakat membawa oncor menyisiri alas butho. Entah kebetulan atau bagaimana, Suranti di temukan dalam kondisi pingsan tidak jauh dari pohon beringin besar, di percaya oleh penduduk sekitar sebagai kerajaan jin.
Selang beberapa hari setelah kejadian tersebut, Suranti memberi pengakuan, kalau dirinya lari ke alas butho karena di sepanjang jalan pasar di ejek dan di hina. Seharian dirinya menangis, tanpa makan dan minum. Wajarlah ketika di temukan masyarakat, Suranti dalam kondisi pingsan.
“Trus sekarang Mbak Suranti tinggal dimana mbok?” tanya pemuda pengeluh.
“Alhamdulillah nak, ono sing gelem. Saiki melu bojone ning Madiun, anake telu” jawab Mbok Minah dengan Bahasa Jawa, dengan senyum yang memperlihatkan gusi polosnya.
“Kalau keseluruhan berapa anak, simbok?” tanya kembali pemuda pengeluh.
Setelah Suranti lahir dengan kondisi fisik yang kurang sempurna, di tahun ketiga pernikahan, beliau dianugerahi anak laki-laki yang di beri nama Slamet Sanjoyo. Dengan harapan di masa depan memiliki nasib seperti namanya.
“Slamet yang tiap hari mengantar untuk berjualan, dan nanti sebelum subuh akan datang lagi untuk menjemput” penjelasan yang diberikan Mbok Minah.
Segalanya berubah ketika Nasrun meninggalkan mereka bertiga untuk selamanya. Kata tokoh desa, suami Mbok Minah terkena “angin duduk”. Sore itu, Nasrun melepas lelah di atas dipan sembari melepaskan asap putih mengepul. Mbok Minah sibuk didapur menyiapkan singkong goreng untuk makan malam. Kebetulan siang tadi pemilik tanah membawakan minyak goreng bekas, sebagai pelengkap bumbu dapur, dapur beliau hanya berisi kayu bakar, jelaga dan singkong.
Ketika singkong goreng matang, beliau membangunkan laki-laki yang telah memberikan dua anak. Berulang kali tangan menggoyang tubuh suami, tidak ada jawaban maupun gerak. Tangis sekeluarga pecah petang itu. Menurut beliau, kain kafan yang digunakan almarhum suami pemberian pemilik tanah.
“Mana mungkin buruh tani seperti suami saya meninggalkan harta untuk kami bertiga” tambah penjelasan beliau.
Kain kafan pemberian pemilik tanah, ternyata menjadi tanda perpisahan kepada Mbok Minah dan kedua anaknya untuk segera meninggalkan gubuk yang mereka tempati. Dengan cepat, pemilik tanah sudah mendapatkan pengganti Nasrun untuk mengurus ladang. Tenaga Mbok Minah sudah tidak lagi dibutuhkan.
Lalu beliau berkata “Dengan berat hati, saya bawa kedua anak untuk numpang di rumah Mas Bagyo” sejenak suara beliau berhenti, sayu terlihat ternyata beliau meneteskan air mata. Mas Bagyo adalah saudara tiri beliau, anak pertama dari laki-laki yang baru menjadi ayah tiri ketika Mbok Minah kecil baru belajar berjalan. Rumah Mas Bagyo berada di seberang Desa Karang Anom, Kuncen nama desa tersebut.
“Wedangnya enak Mbok, pake teh apa?” spontan keluar dari mulut pemuda pengeluh untuk mencairkan suasana. Penuh rasa sesal, perasaan gak enak kepada Mbok Minah begitu terasa. Kesedihan yang dirasakan seolah menular kedalam hati.
“Maaf ya Mbok kalau pertanyaanku membuka luka lama” ujar pemuda pengeluh.
Lantas beliau melanjutkan cerita, tanpa sepatah kata untuk menjawab permintaan maafnya. Menurut Mbok Minah, mereka bertiga tidak lama tinggal di rumah Mas Bagyo. Secara tiba-tiba saudara tiri beliau memutuskan pergi ke Jakarta, tanpa alasan yang diketahui secara pasti.
Pesan terakhir yang disampaikan “tempatilah rumah Tegal Arum, itu warisan bapak” diikuti Mas Bagyo memeluk beliau, serta tangan kanan memberikan segenggam rupiah dan ringgit.
Setelah kepergian Mas Bagyo ke Jakarta, tak  terdengar lagi kabar darinya. Tokoh desa pernah berkata, kepergian Mas Bagyo untuk mengikuti gerakan golongan kiri. Entah apa yang di maksud, hanya doa untuk kakak tiri selalu dalam lindungan Sang Hyang Widi.
Masa-masa kembali ke kampung halaman, di Desa Karang Anom, beliau memulai hidup dari awal. Terbesit dipikiran kalau jagung di ladang milik Mas Bagyo bisa digunakan sebagai sumber penghasilan. Jagung diladang akan diolah menjadi nasi jagung. Pada masa itu, nasi jagung termasuk salah satu makanan favorit.
“Bisa makan saja dah Alhamdulillah nak” kata Mbok Minah, menceritakan pada masa itu begitu sulit dan mahal bahan makanan di tahun 1960-an. Harga barang tidak dapat dijangkau oleh masyarakat seperti Mbok Minah.
“Sebenarnya aku pernah nikah dua kali loh nak, hihihi” lanjut Mbok Minah di ikuti tawa cekikikan.
Spontan pemuda pengeluh terbatuk, minuman yang sedang masuk kerongkongan keluar begitu saja. Belum sempat menanggapi pernyataan Mbok Minah, handphone pemuda pengeluh berbunyi.
“Iya, segera pulang ini sudah reda” jawab pemuda pengeluh dengan handphone ditangannya.
Sambil memakai jaket basah, pemuda pengeluh menanyakan total uang untuk membayar sepincuk nasi jagung dan segelas teh yang habis masuk keperutnya “berapa semuanya mbok?” seru pemuda pengeluh
“lima ribu aja nak” kata Mbok Minah
Ternyata uang yang ada dalam dompet pemuda pengeluh hanya selembar seratus ribu dan lima puluh ribu. Di ambilah selembar lima puluh ribu untuk diberikan ke Mbok Minah.
“Yang kecil aja nak, belum ada kembalian..” jawab Mbok Minah dengan lemas. Wajar semalam ini sedikit pembeli yang datang, uang yang dikumpulkan belum seberapa.
“Besok aja nak, ga’papa, dibawa dulu” ujar Mbok Minah
“Maaf  ya mbok, aku buru-buru, janji besok ke sini lagi untuk membayar. Sekalian mau dengar cerita suami keduanya” jawab pemuda pengeluh
Pemuda pengeluh menganggap senyum Mbok Minah sebagai jawaban mengiyakan atas usulan tersebut.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Hari ini pemuda pengeluh tidak mau berlama-lama di kantornya, briefing rutin sebelum pulang dilewatkan. Sudah cukup tenaga yang dikeluarkan seharian, besok pagi masih banyak tugas yang harus dikerjakan, terlebih perut sudah merasa lapar.
Mbok Minah tujuan setelah keluar dari kantor, makan nasi jagung sekaligus mendengarkan cerita yang belum selesai, tidak lupa membayar hutang makanan kemarin malam.
Lampu sepeda motor menerangi jalanan, namun sorotnya nampak tidak terang. Cahaya lampu kota lebih benderang dibandingkan lampu dari sepeda motor yang ditumpangi. Lima puluh meter sebelum lampu merah, sein kiri menyala menandakan berbelok untuk berhenti di depan Toko Cempaka.
Masih sepi, belum terlihat Mbok Minah membuka tempat jualannya. Jam di tangan menunjukan 19:01. “Mungkin belum datang” pikir pemuda pengeluh.
Sebungkus rokok mild di keluarkan dari saku, satu batang rokok putih kecil di nyalakan dengan korek api zippo. Bagi pemuda pengeluh, rokok adalah teman yang pas sekedar menunggu dan menghabiskan waktu.
Sudah tiga putung rokok mild berada didekat kaki. Dengan duduk di atas sepeda motor, tangan pemuda pengeluh memainkan jari-jarinya di layar handphone. Terdengar suara orang menyapu, petugas kebersihan kota masih bekerja selarut ini, mungkin memang jadwal kerjanya sampai malam. Usianya sekitar lima puluh tahun, tubuh masih terlihat kekar meski rambut sudah memutih.
Tak begitu lama, petugas kebersihan itu sampai didekat pemuda pengeluh, menyapu putung rokok dan daun yang berserakan dibawah kaki. Sebelum menyapu, petugas kebersihan tersebut dengan sopan meminta ijin “maaf ya dik mengganggu, saya sapu dulu” katanya.
Sambil mempersilahkan, pemuda pengeluh menggeser motor ke trotoar yang sudah disapu.
“Adik nunggu siapa, kalau toko cempaka sudah tutup sejak magrib” kata petugas kebersihan.
“Nunggu penjual nasi jagung buka pak” jawab pemuda pengeluh.
Masih dengan posisi menyapu, petugas kebersihan berkata kembali “Yu Minah tidak jualan dik, cari saja jajanan lain”.
“Kok bapak tahu” heran pemuda pengeluh.
“Tetangganya ya pak? ” lanjut pertanyaan sebelum petugas kebersihan menjawab.
“Seminggu yang lalu, Yu Minah meninggal tertabrak truk. Tepat didepan adik berdiri sekarang, bahkan saya sendiri yang mengangkat tubuhnya” kata petugas kebersihan.

Seketika kepala terasa berat, pening berdenyut di ubun-ubun, keringat dingin menggetarkan telapak tangan Dalam keheningan masih tidak percaya, pemuda pengeluh menatap aspal yang dimaksud. Terlihat jelas coretan cat semprot menggambarkan rekonstruksi yang dilakukan petugas kepolisian, mengulang posisi terakhir tubuh Mbok Minah dijalanan.
Categories: ,

0 comments:

Post a Comment