Thursday, November 27, 2014

No Safe Haven


Sebagai buruh tani, masa tanam dan panen merupakan waktu yang paling di nanti. Tenaga para buruh tani digunakan pada periode tersebut. Ketika tenaga tidak dibutuhkan diladang, mereka akan mengisi waktu dengan membuat kerajinan dari bambu, seperti yang sekarang aku lakukan. Hasilnya, mulai ceting, eblek, tenggok sampai kepang untuk menjemur padi.
Lahan pertanian di desa hanya dimiliki oleh kalangan tertentu. Mereka disebut tuan tanah ataupun pejabat kelurahan. Pejabat desa hanya menjadi antek untuk melaksanakan kehendak tuan tanah merebut tanah dari pemilik yang lain. Banyak yang dulu memiliki satu sampai tiga petak tanah, sekarang menjadi kawan diladang sebagai buruh tani.
Hal terpenting yang dilakukan sebagai buruh tani adalah menjaga fisik tetap sehat. Hanya tenaga yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini, sedangkan otak sudah diprogram untuk menuruti keinginan mandor dan pemilik tanah. Tidak jarang beberapa kawan harus pulang dengan luka diwajah maupun di anggota tubuh yang lain ketika pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan target. Kawan buruh tidak bisa melawan, perlawanan hanya akan menghilangkan sumber kehidupan bagi keluarga.

Bagi buruh tani, siang tengah hari menjadi waktu yang ditunggu. Tubuh bisa disandarkan sejenak di bawah pohon beringin. Sembari memegang lintingan tembakau kualitas rendah, menghembuskan asap putih pekat. Rasa lelah seperti ikut terbang bersama asal lintingan, dihembuskan setiap setengah menit. Bekal yang dibawa tidak banyak, singkong rebus sudah menjadi makanan istimewa. Saat seperti ini obrolan para buruh tani banyak dilakukan. Andai obrolan terjadi saat mengerjakan lahan, dapat dipastikan batu sebesar kepalan tangan akan mendarat ke sumber suara.
Lek..lek Marjan..” bisik Parjo tiga meter disisi kanan.
Suara panggilan tidak aku hiraukan, rasa kantuk mengalahkan segalanya sehingga aku lebih memilih untuk memejamkan mata. Sampai sebutir kerikil dilempar mengenai dahi.
“Aduh..!!” Kataku.
Dengan berbisik, Parjo kembali menanyakan pertanyaan yang sama. Mungkin sudah puluhan kali ajakan darinya. Tak pernah aku pedulikan, sampai akhir-akhir ini sempat mengganggu pikiran. Sisi hati yang lain, mendorong mengikuti ajakan Parjo.
Piye….??” Kataku sambil menguap panjang.
Dari penjelasan berbisik itu diketahui bahwa malam nanti akan ada pertemuan pengurus Barisan Tani Indonesia (BTI) dengan anggotanya di desa ini. Desa yang sudah aku tempati sejak lahir sampai sekarang memiliki dua anak. Si Sulung tak jarang aku ajak ke ladang saat panen tiba. Usia satu setengah windu sudah mampu untuk memikul hasil panen ke rumah den Karso, sang tuan tanah.
Sebagai anak pertama, Muji selalu menuruti apa yang aku minta. Mengerjakan beberapa hal sekedar untuk meringankan beban keluarga. Berbeda dengan Duhlah, adik kandung peninggalan orang tuaku. Meski usianya dua kali lebih tua dari Muji, dia tidak pernah mau membantu bekerja.
Kala siang, Duhlah menghabiskan waktunya di atas dipan. Saat muadzin berkumandang adzan subuh, dia baru akan memasuki rumah. Kabar yang aku dengar, saudaraku yang keras kepala ini mempelajari ilmu kanuragan bersama Mbah Jiwo, tokoh yang sangat disegani di desa ini yang dipercaya memiliki ilmu kebal.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Ahli ibadah pulang dari Masjid menjalankan shalat Isya’ sebagai tanda waktu berangkat menghadiri pertemuan BTI. Dikhawatirkan terjadi singgungan antara alim ulama dengan anggota BTI saat bertemu di jalan. BTI merupakan afiliasi dari Partai Komunis Indonesia. Oleh karena itu, di tentukan waktu pertemuan adalah ba’da isya’ saat ahli ibadah sudah masuk rumah.
Dengan wajah gembira, Parjo merangkul pundakku dan berkata “Tenang Lek, tak lama lagi nasib kita akan berubah”.
Pengesahan Undang-Undang Pokok Agraria oleh Pemerintah memicu semangat buruh tani untuk bergabung dengan BTI. Sebelum ketentuan ini berlaku, kader-kader PKI sudah mengawal pelaksanaannya di desa-desa, dengan semboyan “tanah untuk rakyat”. Mengincar tanah-tanah milik tuan tanah, kiai dan tokoh agama yang disegani. 
Semboyan ini membuat pengikut BTI cepat meningkat, ada harapan  perubahan dimasa mendatang. Selama ini tanah banyak di miliki tuan tanah, kiai dan tokoh agama. Dengan perjuangan ini, segera rakyat kecil akan memiliki tanah, bukan menjadi buruh dilahan orang. Begitulah pemikiran kawan buruh tani yang tergabung di organisasi ini.
Pengurus yang hadir berpidato, bahwa perjuangan yang dilakukan ini tidak akan berhasil tanpa dukungan dari semua anggota, serta jumlah massa yang lebih besar. Sekarang mulai jelas, kenapa Parjo terus mendorong aku untuk bergabung di organisasi ini.
Sudah dua setengah jam acara ini berlangsung. Tiba waktunya sesi mendengarkan usulan. Berbagai usulan di dengarkan dengan serius oleh para pengurus. Begitu pula Parjo, menyampaikan permintaan agar koordinasi antara pengurus dan anggota sering dilakukan.
Terdengar dari luar suara kendaraan mesin besar meraung-raung, sebagian menebak asal suara itu sebuah truk, di ikuti suara langkah kaki sesudahnya. Sontak, suara itu mengagetkan semua orang yang ada dalam rumah. Sebagian nampak panik,  pengurus mencoba menenangkan anggota BTI.
“Brraaakkk………” suara pintu terdobrak, sejumlah orang berpakaian serba hitam merangsek masuk. Beberapa dari mereka memakai ikat kepala, di ikuti empat orang berambut cepak dibelakangnya dengan senjata laras panjang ditangan.
Mereka menyuruh kami menunduk. Beberapa kena pukul dan tendangan, karena menolak perintah mereka. Terlihat wajah Parjo berlumuran darah segar, ternyata suara berasal dari senapan laras panjang yang dipukulkan itu mengenai wajahnya. Seorang yang menggunakan ikat kepala merah menginjak-nginjak tubuh Parjo. Ngeri, kasian, tapi aku sendiri tidak mampu menolong.
Ikatan tali dimulai dari lilitan di leher tersambung ke tangan dan kaki membuat gerak terbatas. Dengan posisi menunduk, aku mencari tahu keadaan Parjo, terlihat kondisi kawan diladang sejak lima tahun lalu itu, tak bergerak, hanya terdengar  erangan kecil, serta mata kiri nampak pecah.
“Mudah-mudahan cepat di akhiri penderitaannya..” doa dalam hati untuk Parjo.
Beriringan semua orang yang di ikat dimasukan ke dalam truk. Kami diposisikan duduk, kepala dan lutut harus menempel, tidak diperbolehkan mata melihat kondisi sekitar. Beberapa saat truk tidak berjalan, walaupun semua orang sudah dimasukan ke dalam bak belakang. Ketika truk mulai berjalan, bau asap tercium. Akhirnya aku tahu, mereka membakar rumah tersebut dengan tubuh Parjo masih di dalam. Entah dalam kondisi mati atau masih hidup ketika api disulut.
Perjalanan terasa lama, gelap dan dilarang mengeluarkan suara. Terdengar suara tawa dari kabin depan. Salah satu berkata, sopir atau orang disampingnya “Kendaraan ini membawa kalian ke ujung ajal” di ikuti tawa lagi setelahnya.
Pikiranku mulai kacau “Dibawa ke mana aku sekarang, bagaimana nasib keluargaku?” pertanyaan muncul di dalam kepala setelah sopir menghentikan kendaraannya.
Semua turun di ikuti perintah untuk berjalan mengikuti seorang didepan membawa petromak, samar terlihat bahwa di depan ada sebuah bukit di tumbuhi pohon pinus. Setelah berjalan sekitar tiga ribu langkah menyisiri jalan setapak, tiba ditanah datar, luasnya tidak lebih dari lapangan badminton. Seorang menyuruh lagi untuk membariskan kami, dari baju yang dikenakan memperlihatkan seragam yang tak asing bagi rakyat.
Dua orang maju membawa sejumlah sekop dan cangkul, ditaruh didepan barisan pertama.
Orang berseragam memerintah bawahannya untuk membuka tali di barisan pertama. “Kalian buruh tani tidak butuh waktu lama untuk menggali lubang sedalam pinggang” kata-kata keluar dengan tegas.
Meski udara malam itu dingin, namun keringat tetap membasahi tubuh. Perintah untuk mempercepat galian lubang terdengar berkali-kali. Selama sejam barisan pertama dengan barisan dibelakangnya bergantian menggali lubang sepanjang seputuh meter.
Tali di ikatkan kembali dari leher, tangan dan kaki. Semua disuruh diam, satu-persatu disuruh melangkah maju diujung lubang. Seorang di ujung kanan dari barisan pertama dalam kondisi masih terikat, di tebas lehernya oleh seorang berpakaian serba hitam.
“Craakkkk….” suara golok yang dipegang Algojo.
Masih teringat jelas pidato pengurus beberapa jam yang lalu, begitu bersemangat menyampaikan ideologinya, sekarang sudah menjadi mayat pertama menempati lubang yang digali sendiri. 
“Apakah aku akan bernasib demikian” tanyaku kepada Tuhan.
Air mata mulai membasahi pipiku, penyesalan sudah tidak berarti.
“Mengapa aku mengikuti ajakan Parjo” kataku dalam hati, bahkan Parjo pun sekarang sudah menjadi abu.
Bau anyir menyelimuti malam itu, darah setinggi mata kaki mengisi lubang, menjadikan tanah yang digali berubah jadi kolam mayat.
Setelah barisan pertama dan kedua habis di ujung golok, barisan ketiga diperintahkan melangkah maju mendekati lubang.
“Crassshhh…” bunyi disertai tubuh jatuh kedalam kolam darah. Sedetik yang lalu tubuh itu masih berdiri disebelahku.
Ketika Algojo maju satu langkah mendekatiku, dengan golok dalam genggaman dan tangannya siap mengayun, dia berkata “Berdoalah kalau kamu percaya Tuhan”.
Mataku terpejam, tubuhku menggigil, tidak sanggup mengetahui apa yang akan terjadi.
“TUNGGU…!!!!!!!!” seorang berteriak.
Suara yang tidak asing, bahkan aku kenal suara itu sejak bertahun-tahun lalu. Seketika aku membuka mata, “Duhlah..” kataku.
Duhlah datang mendekatiku, perasaan lega didada mengalahkan segalanya. Terasa lunglai kedua lutut, melemahkan tubuh menjadi duduk, ingin rasanya mengucap syukur dan berdoa berterima kasih kepada Tuhan. Saudaraku telah menyelamatkan ayah dari dua anak yang tak pernah dia perhatikan. Adikku memang tidak pernah memperhatikan keponakannya, tetapi malam ini telah menjadi penyelamat. Menyelamatkan tulang punggung keluarganya.
“Berdiri..” kata Duhlah.
Aku pun mengikuti permintaan saudaraku dengan senyum dan rasa ingin memeluk erat.
“Ini jatahku..” kata Duhlah tepat dihadapanku.
Terdengar suara “Crashhhhhh….” tanpa ragu Duhlah menebas leherku.
Gelap, dingin dan hilang semua rasa.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Tiga hari yang lalu,
Peristiwa besar terjadi di Jakarta, tujuh Jendral diculik, diduga para pelaku adalah orang-orang yang tergabung dalam Partai Komunis Indonesia (PKI). Jenazah para Jendral ditemukan dalam sebuah sumur di wilayah Halim Perdanakusuma, yang dikenal dengan sumur lubang buaya.
Muncul intruksi untuk  memberantas PKI sampai ke akar-akarnya. Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) melaksanakan tugasnya. Operasi dilakukan untuk menangkap orang yang tertuduh sebagai PKI di berbagai tempat. Hal ini diikuti oleh berbagai kelompok warga sipil, merasa keamanan Negara menjadi tanggung jawab bersama. Masyarakat masih trauma dengan perisiwa PKI di Madiun 1948, secara seksama tidak menginginkan peristiwa itu terulang kembali. Mereka berpedoman, dibunuh atau membunuh.
Seseorang dianggap jagoan bisa terpilih untuk membantu penangkapan para simpatisan PKI berikut dengan afiliasinya. Beberapa tuan tanah mengusulkan nama dan mendukung operasi ini. Mereka takut, andai kata tanah yang dikuasai akan diambil oleh rakyat. Padepokan yang mengajarkan ilmu kanuragan menjadi pilihan sebagai tameng rakyat untuk menjalankan aksi ini.
Padepokan terpilih adalah pimpinan Mbah Jiwo yang dipercaya memiliki ilmu kebal. Para murid memiliki tingkat ilmu kanuragan yang tinggi. Mereka diajarkan teknik-teknik pertahanan, menyerang, dan mengalahkan musuh dengan secepat kilat. Salah satu muridnya adalah Duhlah, murid kepercayaan Mbah Jiwo.
Namun naas, berita tentang perintah penangkapan simpatisan PKI terlambat sampai di tempat tinggal Marjan, sebuah desa yang terletak di kaki gunung. Jarak dan sulitnya medan membuat berita tersebut belum diketahui oleh anggota BTI. Alat komunikasi pada masa tersebut belum secanggih sekarang.


Categories: ,

0 comments:

Post a Comment